siesca mega

Minggu, 08 Januari 2012

PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT


1)   Pendidikan Manusia Seutuhnya
a.      Dasar Hukum
Konsepsi pendidikan seumur hidup (life long education) mulai dimasyarakatkan melalui kebijaksanaan negara ( Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 jo Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978, tentang GBHN yang menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional(pembangunan bangsa dan watak bangsa), antara lain:
·         arah pembangunan jangka panjang .Pembangunan Nasional dilaksanakan di dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia". Dalam Bab IV bagian pendidikan, GBHN menetapkan:
·         pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah".  Berdasarkan ketentuan ini, maka kebijaksanaan negara menetapkan prinsip-prinsip:
1.       pembangunan bangsa dan watak bangsa dimulai dengan mambangun subjek manusia indonesia seutuhnya, sebagai perwujudan manusia pancasila. Tipe kepribadian ideal ini  menjadi cita-cita pembangunan bangsa dan watak bangsa yang menjadi tanggung jawab seluruh lembaga negara, bahkan tanggung jawab semua warga negara untuk mewujudkannya.
2.       Pembangunna manusia indonesia seutuhnya secara khusus merupakan tanggung jawab lembaga dan usaha pendidikan nasional untuk mewujudkan melalui lembaga –lembaga pendidikan. Karena itu konsepsi dasar tujuan pendidikan nasional indonesia.
Kebijaksanaan pembangunan nasional khususnya dalam bidang pendidikan dapat di mengerti bahwa secara  konstitusioanal ketetapan ini wajib laksanakn oleh lembaga pendidikan. Artinya, menjadi landasan kebijaksanaan untukl merencanakan pembianaan pendidikan nasional. Itu semua bila secara teoritis dan konsepsional kita memahami latar belakang dan tujuan konsepsi pendidikan seumur hidup ini.
Prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam diktum ini cukup mendasar dan luas, yakni meliputi asas-asas:
1.       Asas pendidikan seumur hidup berlangsung  sehingga peranan subjek manusia untuk mendidik dan mengembangkan diri sendiri merupakan kodrat manusia.
2.       Lembaga pelaksanaan dan wahana pendidikan meliputi :
a.       Dalam lingkungan rumah tangga
sebagai unit masyarakat pertama dan utama, Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi proses perkembangan seorang individu sekaligus merupakan peletak dasar kepribadian anak. Pendidikan anak diperoleh terutama melalui interaksi antara orang tua – anak. Dalam berinteraksi dengan anaknya, orang tua akan menunjukkan sikap dan perlakuan tertentu sebagai perwujudan pendidikan terhadap anaknya.
b.      Dalam lingkungan sekolah
Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya. Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentuyang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga kerja.
c.       Dalam lingkungan masyarakat
sebagai lembaga dan pendidikan nonformal Pendidikan di masyarakat merupakan bentuk pendidikan yang diselenggarakan di luar keluarga dan sekolah. Bentuk pendidikan ini menekankan pada pemerolehan pengetahuan dan keterampilan khusus serta praktis yang secara langsung bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat. Phillip H.Coombs (Uyoh Sadulloh, 1994:65) mengemukakan beberapa bentuk pendidikan di masyarakat, antara lain :
(1) program persamaan bagi mereka yang tidak pernah bersekolah atau putus sekolah
(2) program pemberantasan buta huruf
(3) penitipan bayi dan penitipan anak pra sekolah
(4) kelompok pemuda tani
(5) perkumpulan olah raga dan rekreasi
(6) kursus-kursus keterampilan.
d.      Lembaga penanggung jawab mencakup kewajiban dan kerja sama ketiga lembaga dalam kehidupan, yaitu :
a.       Lambaga keluarga; orang tua
b.      Lembaga sekolah ; lambaga formal
c.       Lembaga masyarakat ; keseluruhan tata kehidupan dalm negara baik perorangan maupum kolektif.
Menurut Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa ke tiga lembaga tersebut merupakan lembaga penanggung jawab sebagai tripusat pendidikan. Prof. Dr.M.J. Langeveld mengajarkan adanya batas bawah antara 5-6 tahun dan batas atas 18-25 tahun yang di anggap sabagi tingkat kedewasaan pribadi. Dengan menyadari bahwa belajar itu tidak mengenal batas waktu dan umur untuk belajar, maka akan mendorong kita supaya setiap pribadi sebagai objek penanggung jawab atas pendidikan diri sendiri manyadari,  bahwa:
1.       Proses dan waktu pendidikan berlangsung seumur hidup sejak dalam kandungan hingga meninggal. Asas ini berarti mamberikan tnaggung jawab pedagogis-psikologis kepad orang tua untuk membina kandunganya secara psiko dan fisis yang ideal.
2.        Bahwa untuk belajar, tiada batas waktu. Artinya tidak ada istiah terlambat atau terlalau dini untuk belajar dan terlalu tua untuk balajar.
3.       Mendidik disi sendiriadalh proses alamiah sebagai bagian integral atau totalitas kehidupan. Manusia belajar bukan untuk persiapan masa yang akan datang akan tetapi untuk kehidupan diri sendiri.

b.      Realisasi Pendidikan manusia seutuhnya
Teori ilmu jiwa mengajarkan bahw kepribadian manusia merupakan satu kebulatan antara potensi-potensi lahir batin bahkan juga jasmani dan penampilanya, antara lain sebagai dikatakan oleh Garrett ;
“ Dalam kenyataan pengertian kepribadian menurut para ahli ilmu jiwa bukan hannya mencakup sifat (ciri, karakteristik) bagaimana seorang bertingkah laku dalam kehidupan dan situasi sehari-hari melainkan labih di tekankan bersamaan dengan itu juga faktor-faktor jasmaniah, penampilan inteligensi, bakat, dan sifat karakeristik. Semuanya ini menyumbang , walupun dalam derajat yang berbeda-beda terhadap keseluruhan kualitas seseorang, yaitu bagi kesan orang lain tentang dirinya.”
Kepribadian manusia ialah suatu perwujudan keseluruhan segi manusiawinya yang unik, lahir-batin dan dalam antar hubunganya manusia dengan kehidupan sosial dan individualnya. Berdasarkan penjelasan Gordon Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.
Membahas pendidian manusia seutuhnya sebenarnya adalah menganalisis secar konsepsional apa dan bagaimana perwujudan manusia seutuhnya itu. Konsepsi tradisional, seutuhnya ialah kebulatan atau integritas antara aspek jasmaniah dengan rohaniah antar akal denagn ketrampilan. Manusia seutuhnya sebagai satu konsepsi modern perlul kita anallisis menurut pandangan berdasarkan sistem nilai psikologi sosial budaya indonesia. Denagn demikian perlu di uraikan konsepsi manusia seutuhnya itu secara mendasar, yakni :
1.       Keutuhan potensi subjek manusia sebagai subjek yang berkembang
2.       Keutuhan wawasan manusia sebagai subjek sadar nilai
Analisisnya adalah :
1.       Konsepsi keutuhan potensi subjek manusia sebagai subjek yang berkembang
Kepribadian manusia lahir batin ialah satu kebulatan yang utuh antara potensi-potensi hereditas dengan faktor lingkungan. Potensi-potensi subjek manusia secara universal mencakup tujuh potensi:
a.       Potensi jasmaniah : fisik, badan yang sehat
b.      Potensi pikir : akal, rasio, inteligensi, intelek
c.       Potensi rasa : perasaan, emosi
d.      Potensi karsa : kehendak, kemauan, keinginan, hasrat, nafsu
e.      Potensi cipta ; day cipta, kreatifitas, fantasi, imajinasi
f.        Potensi karya : kerja, kemampuan menghasilkan
g.       Potensi budi nurani ; keasadaran budi, hati nurani kata hati
Ketujuh potensi ini merupakan potensi dan watak bawaan yang potensial, artinya dalam proses berkembang dan tidak serta menentukan kualitas pribadi seseorang. Inilah yang dikenal dengan istilah self-realization yang artinya mandiri atau realisasi kedirian.
2.       Konsepsi kutuhan wawancara manusia yang sadar nilai
Manusia besikap, berpikir, bertindak, dan bertingkah laku di pengarhi oleh wawasan dan otientasinya terhadap kehidupan dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Wawasan yang di maksud mencakup :
a.       Wawasan dunia akhirat : percaya bahwa hidup di dunia itu ada kematian dan menglami kehidupan di akhirat,
b.      Wawasan individual dan sosial : ego berhadapan dengan relitas sosial untuk dapat hidup harmonis
c.       Wawasan masa lampua dan masa depan ; masa lampau yang penuh dengan penderitaan, penjajahan memberikan kesadaran dan motivasi untuk berjuang serta setia pada negara.
d.      Keempat wawasan tersebut memberikan aspirasi dan motivasi bagi sikap dan tindakan seseorang menurut kadar kesadaran wawasan masing-masing.  Seseorang berbuat terhadap sesuatu hal di dasarkan atas pertimbanagn-pertimbangan yang bersumber pada ruang lingkup wawasan tersebut dan kita taklukan demi martabat kita di hadpan kehidupan bersam itu demi kebenara dan keadilan.
2. Dasar, Tujuan, dan Implikasinya

a.      Dasar-dasar
Prinsip pendidikan menusia seutuhnya berlangsung seumur hidup didasarkan atas berbagai landasan yang meliputi:
1.      Dasar-dasar filosofis
Filosofis hekekat kodrat martabat manusia merupakan kesatuan integral segi-segi (potensi-potensi): (esensial):
·         Manusia sebagai makhluk pribadi (individualbeing)
·         Manusia sebagai makhluk social (sosialbeing)
·         Menusia sebagai makhluk susila (moralbeing)
Ketiga esensial ini merupakan potensi-potensi dan kesadaran yang integral yang dimiliki leh setiap manusia serta menentukan martabat dan kepribadian seseorang. Yang artinya bahwa individu itu merealisaikan potensi-potensi tersebut secara optima dan berkeseimbangan itulah wujud kejadiannya.
2.       Dasar-Dasar Psikofisis
Merupakan dasar-dasar kejiwaan dan kejasmanian manusia. Realitas psikofisis manusia menunjukkan bahwa pribadi manusia merupakan kesatuan antara :
·         potensi-potensi dan kesadaran rohaniah baik dari segi pikis, rasa, karsa, cipta, dan budi nurani.
·         Potensi-potensi dan kesadran jasmaniah yang sehat degan panca indra yang normal secara fisiologis bekerjasam dengan sistem saraf dan kejiwaan,
·         Potensi-potensi psikofisis berada di dalam suatu Lingkungan hidupnya baik alamiah maupun sosial budaya
3.       Dasar-Dasar Sosio-Budaya
Meskipun manusia adalah makhluk ciptaan tuhan namun manusia terbina pula oleh tata nilai sosio-budaya sendiri. Inilah segi-segi buhaya bangsa dan sosio psikologis manusia yang wajar diperhatikan oleh pendidikan. Dasar-dasar segi sosio budaya bangsa mencakup:
·         Tata nilai warisan budaya bangsi seperti nilai keutuhan, musyawarah, gotong royong dan tenggang rasa yang dijadikan sebagai filsafat hidup rakyat.
·         Nilai-nilai filsafat Negara yakni pancasila
·         Nilai-nilai budaya nasional, adapt istiadat dan lain-lain
·         Tata kelembagaan dalam hidup kemasyarakatan dan kenegaraan baik bersifat formal maupun nonformal
b.      Tujuan
Tujuan pendidikan menusia seutuhnya dan seumur hidup ialah :
1.       Tujuan untuk pendidikan menusia seutuhnya dengan kodrat dan hakekatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin.
2.       Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup. Adapun aspek pembawaan (potensi manusia) : Potensi jasmani (fisiologis dan pancaindra), Potensi rohaniah (psikologis dan budi nurani)
Dengan keseimbangan yang wajar hidup jasmani dan rokhani kita itu, berarti kita mengembangkan keduanya secara utuh sesuai dengan kodrat kebutuhannya, akan dapat terwujud manusia seutuhnya.
c.       Implikasi
Sebagai satu kebijakan yang mendasar dalm memanngdang hakikat pendidikan manusia dapat kita jelaaskan segi implikasinya sebagai berikut :
1.       Pengrtian implikasi
Ialah akibat langsung atau konsekwensi dari suatu keputusan.
2.       Segi-segi implikasi dari konsepsi pendidikan menusia seutuhnya dan seumur hidup:
a. manusia seutuhnya sebagai subyek didik atau sasaran didik,
b. proses berlangsungnya pendidikan; yakni waktunya seumur hidup manusia.
3.       Materi didikanya
Dengan mengingat potensi-potensi manusia seutuhnya itu (meliputi tujuh potensi), maka dapatlah dikembangkan wujud manusia seutuhnya itu dengan membina dan mengembangkan sikap hidup:
·         potensi jasmani dan pancaindra, dengan mengembangkan sikap hidup: sehat, memelihara gizi makanan, olah raga yang teratur, istirahat yang cukup, lingkungan hidup bersih
·         potensi pikir (rasional), dengan mengembangkan kecerdasan, suka membaca, belajar ilmu pengetahuan yang sesuai dengan minat, mengembangkan daya pikir yang kritis dan obyektif
·         potensi perasaan, dengan mengembangkan perasaan etika dengan menghayati tata nilai Ketuhanan/keagamaan, kemanusiaan, sosial budaya, filsafat, dan perasaan estetika dengan mengembangkan minat kesenian dengan berbagai seginya, sastra dan budaya
·         potensi karsa atau kemauan yang keras dengan mengembangkan sikap rajin belajar/bekerja, ulet, tabah menghadapi segala tantangan, berjiwa perintis (kepeloporan), suka berprakarsa, termasuk hemat dan hidup sederhana
·         potensi cipta dengan mengembangkan daya kreasi dan imajinasi baik dari segi konsepsi-konsepsi pengetahuan maupun seni-budaya (sastra, puisi, lukisan, desain, model)
·         potensi karya, konsepsi dan imajinasi tidak cukup diciptakan sebagai konsepsi, semuanya diharapkan dilaksanakan secara operasional. Inilah tindakan, amal, atau yang nyata. Misalnya gagasan yang baik tidak cukup dilontarkan, kita berkewajiban merintis penerapannya,
·         potensi budi nurani, kesadaran Ketuhanan dan keagamaan, yakni kesadaran moral yang meningkatkan harkat dan martabat manusia menjadi manusia yang berbudi luhur, atau insan kamil, ataupun manusia yang takwa menurut konsepsi agama masing-masing.
Dengan mengembangkan ketujuh potensi itu dengan sikap yang positif dan mendasar akan mencapai kesinambungan.


3. Eksistensi Pendidikan Sepanjang Hayat
Pendidkan sepanjang hayat dalam prakteknya sudah di laksanakan oleh manusia sejak manusia ada di dunia ini. Namun secara konsepsional merupakan suatu konsep baru dlam pendidikan. Dalam konsepnya, pendidikan itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Pendidikan akan selalu berlangsung dalam totalitas kehidupan, di dalm keluarga, suku bangsa melalui agama, mesjid, gerja, sekolah formal, organisasi kerja, organisasi pemuda dan masyarakat pada umumnya membaca buku, mendengarkan radio, memperhatikan televisi dan sabagainya.
Menurut humel pada waktu itu kehidupan seseorang di bagi menjadi tiga periode yang terpisah satu sama lain, yaitu ;
a.       sekolah dan belajar
b.      kehidupan yang aktif
c.       usia lanjut
di sekolah nasib seseorang di tentukan yang di tuangkan dalam angka-angka yang di tulis pada secarik kertas. Keadaan ini membuat dorongan besar untuk menuju pembaharuan suatu sistem pendidikan. Dan munculah suatu konsep pendidkan sepanjang hayat.
a.     Latar Belakang Historis
Pada tahun 1919, komite pendidikan orang dewasa, kementrian kerajaan inggris, dalam suatu laporannya menggambarkan pendidikan orang dewasa merupakan suatu kebutuhan nasional yang tetap dan merupakan suatu aspek yang tidak dapat di pisahkan dengan peradaban manusia.
Dalam bulan Desember 1965, komite internasional UNESCO mempertimbangkan sebuah laporan yang di kemukakan oleh Paul Lengrand mengenai konsep berkelanjutan dalam pendidikan dan menganjurkan agar UNESCO membenarkan asas-asas “ Pendidikan Sepanjang Hayat .“
Dalam tahun 1965 salah satu dewan CCC mendiskusikan pendidikan sepanjang hayat dan menganjurkan bahwa masalah tersebut mesti dijadikan topik pembicaraan dalm setipa diskusi. Dalm tahun 1967 CCC memutuskan bahwa pendidikan sepanjang hayat mesti di pertimbangkan sebagai suatu ‘ guide line “ dalam seluruh pelaksaan pendidikan.
Dalam tahun 1968 suatu konferensi yang di selenggarakan UNESCO membatasi 12 tujuan yang menjadi sasaran pendidikan secara internasional ( laporannya di terbitkan tahun 1970, sebagai persembahan kepada tahun pendidikan internasional ), di antaranya ialah “pendidikan sepanjang hayat”.
Pad tahun 1971 CCC menutup tahap pengkonsepan pendidikan sepanjang hayat dan pada tahun 1972 asas-asas pendidikan sepanjang hayat di kukuhkan dalam bentuk laporan komisi internasioanal dalam bidang pengembangan pendidikan yang di ketahui oleh Hdgar Faure dan di beri judul “Learning to be : yhe word of education today and tomorrow”.
b.     Makna dari Konsep 
Pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu sistem pendidikan yang cocok bagi orang-orang yang hidup dalam dunia transformasi dan di dalam masyarakat yang saling mempengaruhi yaitu masyarakat modern.
Pendidikan sepanjang hayat merupakan jawaban terhadap kritik-kritik yang di lontarkan terhadap sekolah. Sistem sekolah tradisional menglami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang sangat cepat dalm abad terakhir ini dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang semakin meningkat. Pendidikan di sekolah yang hanya terbatas kepada tingkat pendidikan dari kanak-kanak sampai dewasa tidak akan memenuhi persyaratan-persyaratan yang di butuhkan dunia yang berkembang.
Menurut konsep “ pendidikan sepanjang hayat”, kegiatan-kegiatan pendidikan di anggap sabagi suatu keseluruhan , seluruh sektor pendidikan merupakan suatu sistem terpadu. Apabila sebagian besar masyarakat suatu bangsa masih banyak buta huruf, maka pembrantasan buta huruf di kalangan orang dewasa memegang peranan penting dalm sistem pendidikan sepanjang hayat.
4.    Konsekuensi Pendidikan
a.      Cara belajar
Dalam belajar membutuhkan suatu standar pendidikan yang fleksibel, lebih dinamis, dan lebih terbuka terhadap dunia dan lingkungan sekitar. Guru harus mampu membangkitkan motivasi, kemauan yanng kuat serta keingintahuan dalam diri siswa. Para siswa mesti dipersiapkan untuk belajar sendiri dan berlatih sendiri serta harus mampu membimbing dirinya sendiri. Guru bukan hanya pengajar, melainkan harus biasa jadi pendorong. Siswa juga tidak harus di bebani tugas menghafal, melainkan ia harus mampu menggunakanseluruh media informasi, mulai dari perpustakaan, radio, televisi dan pemanfaatan komputer.
b.      Model pendidikan
Hummel mengatakan ada empat model pendidikan menurut konsep pendidikan sepanjang hayat, yaitu :
1.      Pre-school education
Pre-school education merupakan metode yang menentukan didalam sistem pendidikan sepanjang hayat dan merupakan tempat paling efektif dalm pembentukan kepribadian anak yang demokratis. Yang dikembangkan pada periode ini adalah kebebesan psikologis, sosialisasi anak, pergaulan dengan anak sebayaserat kegiatan-kegiatan kelompok.
2.      Basic school education
Basic school education  merupakan syarat minimum dari pengetahuan, sikap, nilai da pengalamanyang harus dimiliki individu . pendidikan umum harus mendorong individu untuk menembangkan potensinya, kreatifitasnya yang bermanfaat bagi bangsa maupun dirinya sendiri.
Pendidikan dasar harus mendorong para pemuda agar :
a.      Berpartisipasi secara efektif dalam kegiatan Kehidupan ekonomi negaranya;
b.      Menyumbangkan pikirannya demi kesatuan bangsa, dalm kegiatan polotik, sosial, budaya sabagai suatu pengbdian terhadap mayarakat
c.       Untuk mengembangkan kepribadianya
Kebutuhan belajar yang esensial dan minimum, meliputi enam unsur, yaitu :
1.      Sikap positif terhadap kerjasam dan tolong menolong dalam keluarga dan sesama manusia
2.      Menguasai huruf dan angka secar fungsional
3.      Memiliki pandangan yang ilmiah serta mengerti proses alam di sekelilingnya
4.      Pengetahuan fungsional dan ketrampilan keluarga
5.      Pengetahuan fungsional serta ketrampilan untuk mencari nafkah
6.      Pengetahuan fungsional serta ketrampilan agar mapu berpartisipasi dalm masyarakat.

3.      Vocational education
Pada vocational education ini ( pendidikan yang mempersiapkan pekerjaan),program pendidikan harus memberikan pengetahuan kecerdasan prkatis dan mengembangkan sikap serta pengetahuan yang akan menolong individu mangingatkan kembali pengajaran yanng telah lalu.
4.      Adult education
Pendidikan orang dewasa perlu di kembangkan secara maksimum dan berisikan program yang me”refresing’ (penygaran kembali yang diperolah pada masa lampau ) dan remedial training. Ciri khasnya adalh tidak mengenal putus dan istirahat,tetapi terus menerus dan terpadu, terutama antara tingkat sekolah denan tingkat setelah sekolah, begitu juga antara sekolah dengan pendidikan orang dewasa.
5.    Pembaruan Sistem Persekolahan
a.      Sasaran
Pendekatan yang di lakukan Dave memusatkan kepada hal bagaimana memulai suatu proses pendidikan sepanjang hayat dalam kehidupan seseorang. Sementara B.Schwartz tertarik akan dimensi “pendemokrasian pendidikan” yang dapat di perolah melalui pendidikan sepanjang hayat. Ada empat sasaran yang sehubungan dengan pendidikan sepanjang hayat  :
a)      Sasaran pertama yang di kemukakan oleh Dave ialah kesadaran akan kebutuhan pendidikan sepanjang hayat. Menurut Schwartz sasaranya ialah sikap yang aktif terhadap pendidikan yang di arahkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
b)      Sasaran kedua yang dikemukakan poleh Dave ialah peningkatan faktor “educability” yaitu pengembangkan mekanisme belajar , dari pada penegtahuan khusus dalam berbagai lapangan. Sedangkan Schwartz menekankan pentingnya siswa pengindividualkan tingkat pengetahuan dan pemahaman yang di peroleh.
c)      Sasaran ketiga yang di kemukakan oleh Dave, dalm rumusan “exposureto broad areas of learning”. Siswa harus memperolah keluasan dalm pemilihan studinya. Sedangkan menurut Schwartz menetnag kaum encyclopedisme dari sekolah tradisional dan mencoba menggantinya dengan mempelajari secxar detail berbagai lapangan yang sangat terbatas, namun di pelajari secara multidisipliner.
d)      Sasaran yang keempat baik Dave maupun Schwartz menghubungkan pengalaman luar sekolah atau dengan kata lain mengintegrasikan situasi pendididkan yang berbeda. Tambahan bagi Schwartz persamaan dalam kesempatan merupakan sasaran utama.

b.      Isi program
Silabus mesti fleksibel dan memuat dasar yang luas untuk belajar berikutnya. Di sekolah dasar anak mesti mampu memperoleh bekal pengetahuan yang umum. Mata pelajaran yang mesti di tanamkan ialah mata pelajaran yang instrumental dan bahasa. Pengajaran mesti mulai dari pengetahuan yanh khusus menuju ke arah aspek-aspek displin yang struktural.
c.       Metode dan alat
Yang pertama perlu di kembangkan ialah kerja bebas. Siswa mesti berdiri sendiri secara otonom dan percaya akan kemampuanya dalam belajar sendiri. Selanjutnya mesti dikembangkan untuk belajar yang di sebut “ reciprocal learning”(cara belajar saling memberi, tukar menukar pengalaman dan pengetahuan). Penggunaan teknologi dalam pendidikan merupakan suatu keharusan supaya pendidikan berjalan secara efektif dan efisien.
d.      Proses Evaluasi
Tujuan evaluasi  tidak lagi di tujukan sebagai proses pemilihan yang bisa mengakibatkan pengulangan kelas dan kegagalan, melainkan ubtuk membimbing dan menolong anak didik ke arah ke majuan.
e.      Struktur
Sekolah berdasarkan konsep pendidikan sepanjang hayat, tidak boleh merupakan suatu lembaga yang terisolasi yang terpisah dari lingkungan dan masyarakat. Secara vertikal, sekolah harus merupakan suatu kesatuan dengan tingkat-tingkat yang lainnnya, baik di bawah maupun di atasnya. Sedangkan secara horisontal dapat di lakukan dengan mendorong mobilitas di antara tingkat-tingkat pendidikan antara situasi dalam pendidikan waktu kerja dan waktu senggang dan dengan mengintegrasikan pendidikan denagn kehidupan pekerjaan.
6.    Pendidikan Recurrent
Recurrent education merupakan sistem yang terutama akan menyangkut orang-orang dewasa dan mendapat tempat yang layak dalm konsep pendidikan sepanjang hayat. Recurrent education adalah untuk memperkenalkan suatu sistem “sandwich” dengan sistem tersebut setiap individu akan memiliki kesempatan untuk melanjutkan kembali belajar dengan sistem ini yang akan mengubah waktu kerja atau waktu senggang dengan waktu atau periode pendidikan seumur hidup ( OCED dan stoikov,olahan, Hummel 1977.)
Ada beberapa alsan yang mendorong penerimaan terhadap recurrent education, antaranya :
1.      Prinsip keadilan-persamaan, dengan memberikan kesempatan yang kedua atau ketiga kalinya untuk belajar, yang dapt meberikan sumbangan yang efektif bagi keadilan dan persamaan dalam pendidikan.
2.      Sistem ini juga dapat menciptakan ikatan yang lebih erat antara pendidikan dengan dunia kerja.
a.      Contoh recurrent education
Di yugoslavia dibeberapa fakultas negeri di perkenalkan sitem diploma. Program empat tahun di bagi menjadi empat bagian yang masing-masing mengarahkan kepada pencapaian diploma.
Di RRC mereka telah tamat sekolah menengah atas harus bekerja terlebih dahulu sekurang-kurangnya selama dua tahun. Selain itu dapat melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
b.      Kritik terhadap recurrent education
Di pandang dari sudut ekonomi, penangguhan atau perpanjangan 9 lebih dari lima tahun) suatu study bukan merupakan suatu prosedur yang sehat. Mark Blaug juga meregukan tentang kemungkinan berkurangnya ketidaksamaan dan ketidakadilan dengan diselenggarakannya recurrent education itu.
Dalam hal ini akan meningkatkan sekelompok orang kepada suatu tingkat teratassecara terus menerus yang akhirnya akan mengarah kepada tingkat sosial dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Akibat yang lebih jauh ialah bahwa suatu kesenjangan sosial maupun pendidikan akan tetap makin melebar.
Vladimir Stoikov menyimpulkan studynya tentang recurrent education sebagai berikut :” Jika dimulai dengan perencanaan dan persiapan yang matang, recurrent education itu hanya akan menjadikan seluruh sistem pendidikan menjadi lebih susah di atur daripada sebelumnya.


7.    Peranan media komunikasi massa
Di bawah ini kami kemukakan beberapa contoh, dimana media komunikasi massa memgang peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan sepanjang hayat :
a.      Di inggris sejak tahun 1970 di perkenalkan universitas terbuka. Yang mempunyai ciri khas bahwa para mahasiswa tidak di haruskan mengurangi perkuliahan pada waktu yang telah ditetapkan, berhadapan langsung dengan dosen dan berpartisipasi dalam latihan. Perkuliahan di lakukan melalui radio, televisi, dan surat-surat kerumah mahasiswa. Tugas-tugas juga dapat di berikan leat pos, yang berisikan catatn komentar terhadap siaran radio telvisi tersebut.
Universitas terbuka sudah di ikuti oleh berbagai negara, baik negara yang maju maupun negara yang berkembang.
Di indonesia dewasa ini sedang di kembangkan apa yang di sebut SBJJ( sistem belajar jarak jauh ) yang merupakan pilot departemen P dan K, sasaranya ialah untuk menanbah pengetahuan kepada para guru-guru yang talah menyelesaikan D1, diselenggarakan oleh beberapa IKIP, diantarnya IKIP Bandung. Namun SBJJ ini menggunakan sistem modul dan pada setiap kabupaten di tunjuk paling sedikit satu tutor yang memberikan nasihat dan bimbingan kepada para mahasiswa peserta SBJJ tersebut.
b.      Dinegara pantai gading (afrika), televsi sering digunakan di sekolah-sekolah dimana seluruh sitem pendidikan di trnsformasikan lewat televisi sehingga sekolah harus di lengkapi dengan pesawat televisi.
c.       Radi dan televisi memegang perana sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan orang dewasa. Radio akan memberi pelayanan terhadap penduduk di pedesaan dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dasar (kebutuhan dasar yang minimum menurut Coombs) dam memmberikan dorongan untuk ikut serta secara aktif dalm usaha pembangunan bangsanya.

SUMBER : BUKU PENGANTAR PEDAGOGIK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar